PEMUDA GMIT PERKENALKAN TARIAN JA’I DI FILIPINA

Pemuda GMIT berpakaian etnis dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, siap tampilkan tarian ja'i di Filipina

Pemuda GMIT berpakaian etnis dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, siap tampilkan tarian ja’i di Filipina

by: paul bolla

TARIAN JA’I akhirnya go internasional. Adalah Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang  mempernalkannya saat mengikuti  Pertemuan Oikumene Pelajar dan Mahasiswa se-Asia Pacific (Asia Pacific Student and Youth Gathering /ASYG) tahun  2013 di Bukal ng Tipan, CICM, Antipolo, Rizal,  Filipina. Dalam acara pentas budaya di hari terakhir pertemuan, pemuda-pemudi  GMIT menampilkan tarian  Ja’i.  Diiringi irama yang rancak, tarian yang dibawakan secara massal itu memikat pemuda-pemudi peserta dari negara lain. Kaki yang sudah gatal oleh irama musik yang menggoda, akhirnya menarik jumlah penari menjadi lebih banyak.

Tarian ja’i yang semula hanya ditarikan oleh peserta dari Indonesia, oleh Pemuda GMIT dan dua orang peserta dari Timor Leste berubah menjadi tarian internasional. Semua delegasi  peserta ASYG yang akhirnya ikut bergabung menarikan tarian ja’i secara bersama. Tarian yang asli dari Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini pun menghebohkan gedung pentas budaya.

Pertemuan Oikumene ASYG tahun  ini yang berlangsung sejak 30 Agustus hingga 5 September 2013 dihadiri sebanyak  158 peserta dari  20 negara yang menjadi anggota Ecumenical Asia Pasific Students and Youth Network (EASY Net) di Asia Pacific. Peserta dari Indonesia, selain pemuda dari  GMIT, juga pemuda dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), GKE (Gereja Kristen Evangelis), GKI (Gereja Kristen Indonesia), GKT (Gereja Kristus Tuhan) dan GKI di Tanah Papua.  Hadir mewakili Pemuda GMIT , yakni, Pdt. Leny Mansopu, Elfrid Saneh, Yomiani Radja, Rose Boelan, Doddy Kudji Lede,  Ivone Nenohai dan Viktoria Kekado.

Foto bersama peserta ASYG 2013

Foto bersama peserta ASYG 2013

ASYG 2013 mengusung tema besar “Justice and Peace Now.” Tema ini dipilih sebagai bentuk keberpihakan pelajar dan pemuda Kristen terhadap masalah kemanusiaan yang terjadi tidak saja di wilayah ASEAN tapi juga di seluruh dunia. Pertemuan yang dilakukan 4 tahun sekali ini menghasilkan banyak agenda yang menantang orang muda di ASEAN. Isu-isu kemanusiaan diangkat untuk menjadi pergumulan bersama lalu dibahas dalam action plan untuk dilaksanakan di negara dan gereja masing-masing serta dibawa ke pertemuan Dewan Gereja Dunia (World Council of Church/WCC) di Busan, Korea untuk juga dibahas sebagai suara dari pelajar dan pemuda ASEAN.

Pertemuan ini adalah momentum dimana pelajar dan mahasiswa Oikumene se Asia Pasifik membahas isu-isu Global yang sedang terjadi di Asia Pasific seperti isu Lingkungan, Gender, Lintas Agama dan Hak umat beragama, Ekonomi, Kaum Migran, Hak Asasi Manusia, serta Perang dan Militerisasi. Dari semua diskusi dan workshop tentang isu-isu yang menjadi pergumulan bersama semua anak muda di Asia Pasifik, disepakati untuk membangun gerakan oikumene yang menghubungkan semua pelajar dan pemuda Kristen untuk bersama melawan berbagai ketidakadilan dan ketidakdamaian di seluruh dunia.

Jenis kegiatan yang dilaksanakan adalah ibadah, pengenalan konteks pergumulan masyarakat Philipina, Exposure (peserta pergi dan tinggal di lingkungan masyarakat miskin dan marginal serta Politeknik Universtitas Philipina), Bible Study, Cultural Night, Action Plan dan Final Statement.

Keterlibatan perutusan Pemuda GMIT dalam pertemuan ini adalah bersama peserta dari Indonesia lainnya melakukan ibadah pembukaan. Simbol yang mewakili kehadiran Indonesia adalah Ti’i Langga dan Sasando yang dikenakan  Elfrid Saneh, juga terlibat dalam Ibadah pagi dan malam. Sedangkan Pdt. Leny Mansopu dipercayakan  memimpin Bible Study.

Peserta dari Pemuda GMIT

Peserta dari Pemuda GMIT

Organisasi-organisasi yang tergabung dalam EASY Net antara lain  IYCS-International Young Christian Students, IMCS-International Movement of Catholic Students, CCA- Christian Conference of Asia, WSCF-AP World Student Christian Federation Asia Pasific, YMCA-AP Young Men’s Chrisrian Associantion-Asia Pasific, World YMCA – World Young Women’s Christian Association, APAY-Asia Pasific Alliance  of YMCAs, IYWC-International Young Christian Movement.

EASY Net bertujuan mempromosikan dialog dan kerja sama ekumenis. Untuk berbagi pergumulan, perspektif, visi dan harapan kaum muda dan pelajar se Asua Pasifik. Juga pertukaran informasi dan potensi di antara kaum muda dan pelajar di Asia-Pacific.

EASY Net juga menyediakan ruang bagi kaum muda dan kelompok pelajar untuk menampilkan pengalaman solidaritas antar-budaya dan antar-agama. Serta membangun kerja sama dan kolaborasi antar komunitas jaringan regional pemuda dan para pelajar hingga tingkat global. (*)

Pemuda GMIT berpakaian etnis dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, siap tampilkan tarian ja'i di Filipina

Pemuda GMIT berpakaian etnis dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, siap tampilkan tarian ja’i di Filipina

| Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Pidato Lengkap Malala Yousafzai di PBB

Malala Yousafzai sedang berpidato di forum PBB

Malala Yousafzai sedang berpidato di forum PBB

Gadis Pakistan yang mengguncang dunia dengan kisah tragisnya ketika ditembak Taliban, Oktober tahun lalu, kini telah kembali. Malala Yousafzai, 16 tahun, kini telah sembuh dari cedera kepalanya, dan didaulat menjadi ikon pendidikan global oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Jumat 12 Juli 2013, Malala berpidato di Majelis Umum PBB dan menyerukan pendidikan global bagi seluruh anak di dunia tanpa kecuali. PBB menyatakan 12 Juli, hari kelahirannya, sebagai Hari Malala. Berikut ini teks lengkap pidato Malala yang menyentuh dan beberapa kali terhenti oleh gemuruh tepuk tangan hadirin itu:

Bismillah Arrahman Arrahim

Atas nama Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.

Yang terhormat Sekjen PBB Bapak Ban Ki Moon, Yang terhormat Presiden Majelis Umum PBB Bapak Vuk Jeremic, Yang terhormat Utusan Khusus PBB untuk Pendidikan Global, Bapak  Gordon Brown

Para tetua dan saudara saudara: Assalammualaikum.

Hari ini adalah kehormatan bagi saya untuk bisa bicara lagi setelah sekian lama. Berada di sini, di antara hadirin yang mulia, adalah momen yang luar biasa dalam hidup saya.

Saya juga merasa amat terhormat hari ini karena saya mengenakan syal dari Benazir Bhutto yang telah sahid.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana pidato ini. Saya tidak tahu orang mengharapkan saya bicara apa. Pertama-tama,  terimakasih Tuhan, karena kita semua diciptakan sama. Terimakasih juga pada semua orang yang telah berdoa untuk kesembuhan saya yang cepat, dan hidup saya yang baru.

Saya tidak bisa percaya betapa besar cinta yang diberikan pada saya. Saya menerima ribuan kartu ucapan semoga cepat sembuh dari seluruh penjuru dunia.

Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk anak-anak yang dengan dunianya yang polos menguatkan saya. Terimakasih untuk para tetua yang doanya menguatkan saya.

Saya juga ingin berterimakasih pada para  perawat, dokter dan staf rumah sakit di Pakistan dan di Inggris, yang telah merawat saya. Juga terimakasih pada pemerintahan Uni Eropa yang telah membantu saya sembuh dan menemukan kembali kekuatan saya.

Saya sepenuhnya mendukung  inisiatif Sekjen PBB Ban Ki Moon yakni  Global Education First Initiative. Juga kerja-kerja Utusan Khusus PBB Gordon Brown dan Presiden Majelis Umum PBB Vuk Jeremic. Saya berterimakasih pada kepemimpinan mereka dan pada upaya mereka untuk terus menerus membantu dan memberi. Mereka juga terus menerus memberikan inspirasi agar kita terus bekerja.

Saudara saudariku, ingatlah satu hal, Hari Malala bukanlah hari saya. Hari ini adalah hari ketika semua perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, bersuara untuk hak mereka. Hari untuk ratusan aktivis HAM dan pejuang sosial yang tak hanya bicara untuk diri mereka tapi juga berjuang untuk mewujudkan perdamaian, pendidikan dan kesetaraan.

Ada ribuan orang yang dibunuh teroris, dan jutaan orang cedera. Saya hanya salahsatu dari mereka.

Jadi di sini hari ini saya berdiri: satu anak perempuan, di antara yang lain. Saya bicara bukan atas nama saya sendiri, tapi atas nama orang lain yang tidak punya suara yang bisa didengar, untuk mereka yang berjuang untuk haknya. Hak untuk hidup dalam damai, hak untuk hidup  secara bermartabat, hak untuk memperoleh kesempatan yang sama, hak untuk mendapat pendidikan.

Kawan-kawan,
Pada 9 Oktober 2012, saya ditembak Taliban di pelipis kiri saya. Mereka juga menembak teman-teman saya. Mereka berpikir peluru itu akan membungkam kami. Tapi mereka gagal.

Dari kesunyian itu, muncul ribuan suara lain. Teroris berpikir mereka bisa menghentikan ambisi saya dan mengubah tujuan hidup saya. Tapi hingga kini tak ada yang berubah dalam hidup saya. Kecuali ini:
kelemahan, ketakutan dan ketakberdayaan mati. Kekuatan, tenaga, dan keberanian lahir.

Saya adalah Malala yang sama. Ambisi saya masih sama. Harapan saya masih sama. Mimpi saya masih sama.

Saudara saudariku,
Saya tidak bermusuhan dengan siapapun. Saya tidak di sini untuk menyerukan balas dendam pada Taliban atau semua kelompok teroris manapun. Saya di sini untuk bicara tentang hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan.

Saya juga mau pendidikan untuk anak-anak Taliban dan anak-anak ekstremis yang lain. Saya bahkan tidak membenci Taliban yang menembak saya. Bahkan jika ada pistol di tangan saya, dan dia ada di depan saya, saya tidak akan menembaknya.

Ini adalah welas asih yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, Yesus Kristus dan Budha. Ini adalah warisan perubahan yang diturunkan pada saya oleh Martin Luther King, Nelson Mandela dan Muhammad Ali Jinnah. Ini adalah filosofi anti kekerasan yang diajarkan Gandhi, Bacha Khan, dan Bunda Teresa.

Ini adalah semangat memberi maaf yang diajarkan ayah dan ibu saya. Ini adalah apa yang dibisikkan jiwa saya pada saya, “Damailah dan cintailah semua orang.”

Saudara saudariku,
Kita menyadari pentingnya cahaya ketika melihat kegelapan. Kita sadar pentingnya bersuara ketika kita dibungkam. Begitu juga, di Swat, di utara Pakistan, kami sadar pentingnya pulpen dan buku, ketika kami melihat senjata api.

Ada yang mengatakan pulpen lebih perkasa dari pedang. Itu benar. Para ekstremis lebih takut pada buku dan pena. Kekuatan pendidikan menakutkan mereka. Mereka takut pada perempuan, kekuatan suara perempuan menakutkan mereka.

Itulah kenapa mereka menembak 14 murid  tak bersalah belum lama ini di Quetta. Itu kenapa mereka membunuh guru dan pekerja polio perempuan di Khyber Pakhtunkhwa. Itu kenapa mereka meledakkan sekolah setiap hari.

Karena mereka takut pada perubahan, takut pada kesetaraan, yang akan dibawa pendidikan ke dalam masyarakat kita.

Saya ingat ada seorang anak laki-laki di sekolah saya, yang ditanya jurnalis, “Kenapa Taliban sangat membenci pendidikan?”

Dia menjawab dengan sederhana. Sambil menunjuk bukunya, dia berkata, “Seorang Taliban tidak tahu apa isi buku ini. Mereka pikir Tuhan hanya mahluk kerdil konservatif yang akan mengirim perempuan ke neraka hanya karena mereka pergi ke sekolah.”

Para teroris telah menyalahgunakan nama Islam dan warga Pashtun untuk kepentingan mereka sendiri.

Pakistan adalah negara demokrasi yang cinta damai, orang Pashtun ingin pendidikan untuk anak-anak mereka, dan Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, kemanusiaan dan persaudaraan. Islam mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya hak anak, tapi juga tugas dan tanggung jawab seorang anak.

Bapak Sekjen PBB,
Perdamaian dibutuhkan untuk keberlangsungan pendidikan. Di banyak tempat, di Pakistan dan Afganistan, terorisme, perang dan konflik membuat anak tidak bisa pergi ke sekolah. Kami capek dengan semua perang ini.

Perempuan dan anak menderita dalam segala bentuk, di banyak tempat di dunia. Di India, anak-anak miskin dan tak berdosa jadi korban perburuhan anak, banyak sekolah dirusak di Nigeria, rakyat Afganistan menderita di bawah ekstremisme selama berpuluh tahun.

Gadis-gadis dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan dipaksa kawin di usia muda. Kemiskinan, ketakpedulian, ketidakadilan, rasisme, dan perampasan hak dasar, adalah persoalan-persoalan utama yang dihadapi lelaki dan perempuan di dunia ini.

Saudara saudariku,
Hari ini saya fokus pada hak perempuan dan pendidikan untuk anak perempuan, karena mereka yang paling menderita saat ini.

Ada saat ketika perempuan yang menjadi aktivis sosial meminta lelaki berjuang untuk hak-hak mereka. Tapi kali ini, kita akan berjuang sendiri.

Saya tidak mengusir para lelaki dari perjuangan untuk hak perempuan, tapi saya ingin fokus pada para perempuan, yang harus menjadi independen dan berjuang untuk hak mereka sendiri.

Saudara saudariku,
Kini tiba saatnya untuk meneriakkan tuntutan kita. Hari ini, kita menyerukan pada para pemimpin dunia, untuk mengubah kebijakan strategis mereka pada usaha mencapai perdamaian dan kesejahteraan.

Kami menyerukan pada para pemimpin dunia, agar semua perjanjian damai harus melindungi hak perempuan dan anak. Perjanjian yang mengabaikan hak perempuan, tidak bisa diterima.

Kami menyerukan pada pemerintahan di seluruh dunia, untuk mengadakan pendidikan gratis dan wajib untuk semua anak tanpa kecuali.

Kami menyerukan pada pemerintahan di seluruh dunia, untuk terus berperang melawan terorisme dan kekerasan, serta melindungi anak dari kekejaman dan mara bahaya.

Kami menyerukan pada negara-negara maju, untuk memperluas kesempatan pendidikan untuk anak perempuan di negara-negara berkembang.

Kami menyerukan pada  semua masyarakat dan komunitas, untuk bersikap toleran. Untuk menolak prasangka berdasarkan kasta, keyakinan, sekte, agama, warna kulit atau gender. Untuk memastikan ada kebebasan dan kesetaraan bagi perempuan, sehingga mereka bisa sukses.

Kita tidak akan bisa sukses bersama, kalau sebagian dari kita dibelenggu dan tak bisa maju.

Kami menyerukan pada perempuan di seluruh dunia, untuk berani. Untuk menyambut kekuatan di dalam diri mereka dan  menyadari potensi mereka sepenuhnya.

Saudara saudariku,
Kami mau sekolah dan pendidikan untuk masa depan yang cerah bagi anak-anak.

Kita akan meneruskan perjalanan kita untuk mewujudkan perdamaian dan pendidikan. Tidak ada yang bisa menghentikan kita.

Kita akan terus bicara untuk hak-hak kita. Kita  akan mengubah keadaan dengan suara kita. Kita percaya pada kekuatan kata-kata kita. Kata-kata kita bisa mengubah dunia kalau kita semua bersama, bersatu untuk pendidikan.

Kalau kita mau mencapai cita-cita kita, mari kita mempersenjatai diri dengan pengetahuan, dan mari membuat perisai dari persatuan dan kebersamaan kita.

Saudara-saudariku,
Kita tidak boleh lupa bahwa jutaan orang hari ini  menderita akibat kemiskinan,   ketidakadilan dan ketidakpedulian.

Kita tidak boleh lupa, ada jutaan anak yang tak bisa bersekolah.

Kita tidak boleh lupa, saudara-saudara kita sedang menanti masa depan yang damai dan lebih baik.

Jadi, marilah kita kobarkan perang global memberantas buta huruf, kemiskinan dan terorisme. Mari kita teriakkan tuntutan, mari kita gunakan buku dan pulpen kita, senjata kita yang paling utama.

Satu murid, satu guru, satu buku, satu pena, bisa mengubah dunia.
Pendidikan adalah satu-satunya solusi. Pendidikan harus diutamakan. Terimakasih.

Sumber:  http://www.tempo.co/read/news/2013/07/13/118496106/Ini-Pidato-Lengkap-Malala-Yousafzai-di-PBB

| Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Emeritasi Pelayanan

 

Pada hari Minggu, 16 Juni 2013 telah dilakukan emeritasi terhadap Pdt. Aplonia Selfina Mariana Mbau – Lidda, S.Th di Jemaat Ebenhaezer Oeba Klasis Kota Kupang. Kebaktian emeritasi dipimpin oleh 6 (enam) orang pendeta yakni : Pdt… Dalam khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Enrike Th. D. Telnoni-Funay, M.Th, Pdt. Laazar de Haan, Sm.Th, Pdt. Robert St. Litelnoni, S.Th, Pdt. Hendrik R. Fanggidae, M.Th, Pdt. Salmon Bees, S.Th.

Dalam Khotbahnya, Pdt. Laazar de Haan, Sm.Th mengatakan bahwa semua persoalan sesulit apapun, tidak ada yang sulit di dalam tangan Tuhan. Pekerjaan pelayanan sebagai hamba Tuhan bukan pekerjaan yang mudah namun yang terpenting dan terutama dari setiap resiko pilihan pelayanan adalah keluar masuknya seorang hamba Tuhan ada di dalam perlindungan tangan Tuhan.

Dalam suara gembala Majelis Sinode Harian yang disampaikan oleh Wakil Ketua MS, Pdt. Welmintje Kameli-Maleng, M.Th, ia mengatakan bahwa jejak-jejak kaki pelayanan yang telah ditinggalkan oleh Pdt. Aplonia S. M. Mbau-Lidda tidak akan pernah terhapus dan akan melahirkan Aploni-Aploni yang baru untuk meneruskan tugas pelayanan.

sumber: Berita GMIT

Dipublikasi di BERITA - BERITA | Tag , | Meninggalkan komentar

GM PLN NTT Kunjungi Pulau Buaya di Alor

General Manajer PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Richard Safkaur, dan Manajer SDM, Aneke Mulyono, benar-benar menikmati medan pelayanan di provinsi kepulauan ini. Untuk membuktikan dan mendorong unit kerjanya di Rayon Kalabahi, bekerja denga nbaik, kedua pejat dari kantor PLN Wilayah NTT, rela menyeberang lautan menuju Pulau Buaya, salah satu pulau dalam gugusan pulau-pulua yang membentuk Kabupaten Alor. Richard Safkaur dan rombongn harus menguji nyali melewati laut yang bergelombang dan rela berbasah-basah mendarat di tepi pantai tanpa dermaga.

Di pulau Buaya yang berpenduduk lebih dari 100 jiwa itu, sampai saat ini belum menikmati listrik. Solusinya, Manajer Rayon Kalabah, Eka Wijayanto  menawarkan penggunaan lampu penerangan SEHEN (super ekstra hemat energi). Masyarakat menyambut gembira dan antri menjadi pelanggan PLN meski baru dengan lampu SEHEN. Sudah sekitar 200 rumah menjadi pelanggan. Maka pulau yang gelapa gulita itu pun kini menjadi terang benderang di malam hari. Wajah-wajah sumringah muah ditemui saat rombongan Richard Safkaur mengunjungi pulau itu malam hari.

Bahkan Richard Safkaur, yang asli Sorong, Papua Barat, itupun tak kurang gembiranya. Gembira menyaksikan reaksi warga pulau Buaya yang menyambutnya dengan ungkapan terima kasih tak terhingga. Mereka pantas gembira dan mengungkapkan sukacitanya dengan mengatakan “sejak Indonesia merdeka, akhirnya kami menikmati listrik di tahun 2012, meski baru penerangan saja.”

Menurut, Richard Safkaur, lampu SEHEN merupakan solusi meningkatkan rasio elektrifikasi di provinsi NTT. Secara nasional, NTT bersama Papua dan Maluku adalah wilayah yang rasio elektrifikasinya masih dibawah 50 persen. Rasio elektrifikasi Provinsi NTT saat ini baru mencapai 46 persen. Dengah lampu SEHEN diharapkan akhir tahun 2012 bisa mencapai 60 persen.

Lampu SEHEN adalah lampu berbasi sumber energi matahari, Setiap pelanggan lampu SEHEN mendapat satu paket berupa, panel surya, tiga bohlam lampu LED masing-masing 4 watt, dan asosori. Keunikan bohlam lampu SEHEN adalah memiliki tiga kualitas nyala, yakni, terang sekali, terang sedang dan redup. Setiap kualitas terang menandai lama nyala lampu SEHEN. Simulasinya nya, jika terang lampu bisa tahan nyala enam jam, nyala sedang bertahan 12 jam dan lampu redup bisa tahan 24 nyala. (pb)

General PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur, dan rombongan siap melompat ke pantai saat mengunjungi Pulau Buaya di Kabupaten Alor, pada malam hari.

Dipublikasi di BERITA - BERITA | Tag , | 2 Komentar

Samuel, Pahlawan Inter Milan

Kegembiraan Walter Samuel dan kegembiraan

Milan – Walter Samuel sudah tampil jadi pahlawan kemenangan Inter Milan atas AC Milan di giornata 7 Seri A. Ini sekaligus menegaskan peranan dirinya dalam Derby della Madonnina.

Di San Siro, dengan Milan berposisi sebagai tuan rumah, Senin (8/10/2012) dinihari WIB, Inter berhasil mengunci tiga angka berkat gol semata wayang Samuel.

Gol Samuel, yang ia cetak ketika laga baru berjalan tiga menit, itu tak kunjung bisa dibalas oleh Rossoneri. Walhasil, Nerazzurri yang harus bermain dengan 10 pemain sejak menit 48 usai Yuto Nagatomo dikartu merah pun tampil jadi pemenang.

Yang unik, untuk Samuel kemenangan di dalam derby Milan bukanlah hal asing. Dicatat Infostrada Live, dalam 10 partisipasinya di derby lawan Milan di Seri A, bek Argentina berusia 34 tahun itu sudah melewatinya dengan 10 kemenangan pula.

Artinya, Samuel punya rekor sempurna ketika menghadapi Milan di dalam derby della Madonnina. Maka tak ayal gol tunggalnya kali ini pun menegaskan kalau dirinya masih amat berharga untuk Inter, yang merekrutnya dari Real Madrid tahun 2005 lalu.
Sumber: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2012/10/08/050832/2056871/71/samuel-bertuah-untuk-nerazzurri

Dipublikasi di BERITA - BERITA | Meninggalkan komentar

KERUKUNAN DARI NTT

Rekan2 pengelola Media cetak dan elektronik di NTT, khususnya di Kota Kupang…marilah kita rapatkan barisan.

Ber-hati2lah merilis berita2 rumor atau penyusupan info/berita se-olah2 sebagai suatu aksi solidaritas.

Cermatilah setiap aksi itu apakah benar bertujuan tulus. Marilah kita pertahankan Kota Kupang itu kota KASIH dan Provinsi NTT sebagai simbol PROVINSI KERUKUNAN. Jangan kita biarkan siapapun merusak rumah kerukunan NTT.

Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki keragaman manusia, adat istiadat, seni budaya, etnik, tingkat kemakmuran, pendidikan, dll. Semua itu kekayaan yg sedang diasah bagi kesejahteraan, kedamain dan kemasyuran NTT.

Kepelbagaian di NTT adalah kekuatan yg dianugerahkan Tuhan. NTT mendapat stigma daerah miskin….ttp warga NTT mempunyai KEKAYAAN daya juang, tegar, semangat pantang menyerah, dan saling mendukung.

Kekayaan NTT itu menjadi lahan yang menyediakan humus dan nutrisi terbaik untuk menumbuhkan karakter saling menghargai, saling menghormati, dan saling memuliakan.

Harga diri NTT adalah MENGASIHI sesama, siapapun dia. NTT adalah CAHAYA KERUKUNAN DARI SELATAN INDONESIA. Siapapun yg berniat mengganggu kerukunan di NTT, kami akan megubahnya menjadi sumber energi inspiratif agar makin membangkitkan cahaya kerukunan untuk terus memperluas cakupan menerangi Indonesia.

Janganlah kita ikut-ikutan mengekspos aksi-aksi intoleransi. Beri porsi yang cukup sekedar informasi agar orang mengetahui ada suatu kejadian di daerah tertentu yang mencobab melawan kebhinekaan Indonesia.

Janganlah berita di-blow up. Ini akan membesarkan dan semakin memuluskan mereka yang memang menginginkan sikap intolerasi bagai bola salju. Jangan kita terpancing.

Memang sangat menyakitkan mengetahui bahwa aksi-aksi intoleransi ada yang secara sengaja di-back up oleh aparat pemerintah ataupun aparat penegak hukum. Betapa tidak adilnya kenyataan itu. Tetapi itu bukanlah gambaran mayoritas umat sebagian besar.

Tuhan beserta kita. Salam kerukunan..

 

paul bolla

Dipublikasi di BETA PUNG PENDAPAT | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Gaji Presiden RI

Republika – Jumat, 21 Januari

Survei: Gaji Presiden RI 28 Kali Lebih Tinggi dari Pendapatan Per Kapita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Presiden Susilo Bambang Yudhoyono curhat soal gajinya yang tak naik-naik selama tujuh tahun berkuasa. Namun menurut majalah bergengsi asal Inggris, The Economist, gaji presiden di Indonesia adalah gaji dengan kesenjangan tertinggi ketiga dari 22 negara yang disurvei tahun lalu.

The Economist menyurvei soal gaji presiden atau perdana menteri yang dibandingkan dengan pendapatan per kapita masing-masing negara.  Data tersebut secara tak langsung mencerminkan bagaimana kesederhanaan seorang kepala negara dan sekaligus kesenjangan pendapatan presiden dengan rakyatnya.

Berdasar urutan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menduduki ranking ketiga yang kesenjangan antara gaji dia dengan pendapaan per kapita masyarakat.

Gaji per tahun yang diterima Presiden SBY mencapai 124.171 dolar per tahun. Menurut catatan majalah itu, dengan angka tersebut berarti gaji SBY 28 kali lipat dari pendapatan per kapita. (Lihat tabel gaji para pemimpin dunia versi Economist).

Urutan nomor pertama kesenjangan gaji tertinggi adalah presiden Kenya yang gajinya pokoknya 427.886 dolar yang berarti 240 kali lipat dari pendapatan per kapita rakyatnya.

Di susul urutan kedua PM Singapura yang besarnya gaji 2.183.516 dolar atau 42 kali lipat pendapatan per kapitan rakyat Singapura.

Dipublikasi di BERITA - BERITA | Tag , | Meninggalkan komentar